Sejarah Desa

Triatmo Susanto 02 Mei 2017 05:11:12 WIB

Dari berbagai sumber yang telah ditelusuri dan digali asal-usul desa Jombok memiliki legenda yang cukup bervariatif. Hal tersebut disebbkan adanya mitos/kepercayaan bagi orang yang membabat desa. Dari dasar di atas maka kami akan mengutarakan secara singkat legenda-legenda dari terjadinya sebuah desa bernama Jombok.

Namun cerita ini hanya dilihat dari adanya nama kampung yang ada di desa Jombok yang perlu kita gali secara pasti kebenarannya. Menurut sesepuh desa bernama Mbah Somonawi, Ki Moentoyo serta Mbah Misroen dan masih banyak yang lain menceritakan hal tersebut hampir ada kesamaan cerita.

Pada suatu ketika ada dua orang Syeh dalam perjalanan diserang oleh segerombolan kijang (dalam bahasa Jawa Talun). Namun kijang-kinjang tersebut bisa diusir dengan mudah. Maka desa tersebut dinamakan Kampung Talun. Kemudian kedua Syeh tersebut melanjutkan perjalanan dan mereka begitu kaget karena dihadang oleh janda-janda cantik yang mau minta pertolongan atas penderitaan yang dialami dalam rumah tangga mereka. Mereka menceritakna bahwa sewaktu menanam padi mulai menguning, suami mereka meninggal. Kemudian Syeh menjawab dalam bahasa Jawa, “Ooo, yen ngono nasibmu kuwi diarani Rondo Kuning” dan Syeh memberi saran agar hendaknya tanah di sini jangan ditanami padi. Akhirnya daerah tersebut sampai sekarang dinamakan Rondo Kuning. Selanjutnya, dua Syeh tadi melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan ternyata sudah kemalaman dan ingin meneruskan perjalanan mertanggung, sehingga mereka tertidur. Setelah bangun pagi mereka meneruskan perjalanan. Oleh karena itu, daerah tersebut dinamakan Tanggung. Di tengah jalan, mereka menemukan rumah dekat pohon Pule dan mereka merasa senang karena bisa berteduh. Akhirnya pohon Pule ditebang dan dibangun perkampungan sebagai cikal bakal adanya rumah. Maka daerah tersebut oleh lidah Jawa dinamakan kampung Mah Bakal. Setelah beberapa tahun hidup di situ, maka kampung tersebut menjadi sangat ramai dan wilayahnya semakin luas. Dan mereka memperlus wilayahnya namun kendalanya banyak pohon Pule yang harus ditebang. Maka kamoung tersebut dinamakan Pule Rejo yang diartikan lidah Jawa dulunya banyak pohon pule kok menjadi ramai.

Perluasan wilayah semakin meluas. Namun terhalang oleh banyaknya pohon gondang, pepohonan gondnag juga ramai-ramai ditebang dan menjadi perkampungan. Maka dari itu, lidah Jawa memberi nama Gondang Rejo. Dalam perkampungan tersebut, orang-orangnya suka mengadu ayam jantan dan banyak pula pendatang yang ingin mengadu ayamnya. Di situlah tumbuh pemikiran dibangun tempat mengadu ayam jago. Karena banyaknya pendatang, sehingga sering terjadi perkelahian yang menewaskan bukan hanya ayamnya saja, melainkan juga para pengadu ayamnya. Setelah kampung tersebut menjadi tidak aman, maka datanglah dua orang Syeh yang ingin mengajarkan kebaikan. Namun perjuangan mereka sia-sia karena banyak manusia-manusia yang menolak jasa baik mereka. Pertarungan pun tak bisa dikendalikan yang menewaskan para jagoan-jagoan yang digjaya.

Namun semuanya bisa dikalahkan dengan mudah oleh dua orang Syeh dan semua menyerah ingin mengabdi pada para Syeh tersebut. Maka dari itu oleh para penghuni kampung tersebut dinamakan Sawungan yang akhirnya jagoan.

 

Pertilasan sawungan yang masih keramat

            Selain pertilasan sawungan, masih ada lagi yang mempunyai hubungan terjadinya desa Jombok yaitu Pring Tulis. Menurut dedawuh par sesepuh, Pring Tulis adalah tempat dua orang Syeh yaitu Syeh Maulana dan Syeh Giri Gongso tinggal sementara sebelum melanjutkan perjalanan. Tepat menginjakkan kaki, Syeh tersebut menancapkan tongkat bambu dan lama kelamaan tongkat tersebut tumbuh dan menjadi serumpun bambu. Setelah beberapa tahun tinggal, banyak orang yang maguru (menimba ilmu) dari segala hal. Pada suatu ketika, orang-orang ingin diajari cara makan, maka dua orang Syeh pun berpikir sejenak sambil menyempal ranting bambu kemudian dilemparkan ke sebuah kedung (telaga). Maka kedung tersebut menjadi kotak-kotak persawahan. Dan oleh orang Jawa dinamakan Dung Kotak.

            Karena kedung yang dulu digunakan untuk mandi dan minum, maka orang-orang menjadi kecewa. Karena ada yang mengeluh terhadap dua orang Syeh tadi, maka Syeh tersebut menyempal kembali ranting bambu lalu dilemparkan ke area yang akhirnya menjadi sebuah belik yang menggantung. Oleh lidah Jawa dinamakan Belik Gantung. Karena beliknya menggantung, orang –orang menjadi kesulitan dan meminta Syeh agar hendaknya dibuatkan sebuah belik yang memancar. Akhirnya Syeh memotong bambu menjadi beberapa potong lalu dilemparkan ke beberapa arah, yang satu ke arah selatan menjadi air yang mengucur. Maka orang-orang menyebutnya Kali Kucur. Sedangkan yang kedua dilemparkan ke arah barat menancap ke tanah menjadi belik. Maka orang-orang menamakan Kali Mbelik. Setelah ada persawahan, penduduk diajari cara menanam padi yang dikerjakan oleh semua penduduk laki-laki maupun perempuan. Pada waktu menggarap sawah, banyak bocah-bocah kecil yg mengganggu orang tuanya. Maka sang Syeh membuatkan kedung untuk bermain bocah-bocah. Maka kedung tersebut dinamakan Kedung Bocah.

            Hari panen pun telah tiba. Padi yang melimpah dan sudah mulai mengering. Tetapi masyarakatnya merasa bingung akan diapakan padi tersebut. Maka Syeh Giri Gongso melempar batu kecil-kecil ke kedung. Maka batu-batu tersebut berubah menjadi lumpang batu. Maka orang-orang menyebutnya Kedung Lumpang. Mengingat saking banyaknya hasil panen maka banyak orang yang bertanya pada Syeh bagaimana beras ini tidak habis dimakan dan masih membutuhkan keinginan lain. Maka sang Syeh mengambil daun dan ranting bambu dan barang tersebut dibuang ke kedung. Terjadilah sebuah keajaiban. Kedung mengering dan menjadi barang berharga seperti emas, perak, perunggu, dan lain-lain. Akhirnya masyarakat berbondong-bondong untuk mengambilnya. Sebagian orang ada yang mendapat emas, sebagian mendapat perak, dan sebagian yang lain mendapat logam. Karena pendaptannya tidak sama, maka ada saja yang menginginkan milik orang lain karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Maka terjadilah saling berebut. Hal itu membuat sang wali mengajarkan cara keadilan agar bisa memiliki yang lain dengan cara menukar satu dan yang lainnya. Akhirnya di tempat tersebut dibuatlah tempat untuk saling tukar menukar dan menjadi pasar yang konon kabarnya didatangi para pendatang dari negeri Cina. Mengingat dulunya sebuah kedung yang kemudian menjadi pasar maka orang sampai sekarang menyebutnya Kedung Pasar.

Yang anehnya, setelah ranting bambu disempal dan menghasilkan sesuatu, maka bambu tersebut berubah warna berbentuk tulisan yang mengandung sejarah, maka orang menyebutnya bambu tulis (Pring Tulis).

 

Tempat dimana sang wali menancapkan tongkat yang sekarang dinamakan Pring Tulis

            Pada suatu ketika, Syeh meminta pada orang-orang untuk berkumpul karena sang wali ingin meneruskan perjalanan maka orang-orang banyak yang sedih karena mereka akan kehilangan seorang pelindung juga pemimpin yang tangguh. Sehingga ada yang berpendapat siapakah yang pantas menjadi pemimpinnya. Maka sang Syeh Giri Gongso menggarit sebuah lempengan batu besar dengan ranting bambu. Batu tersebut terbelah menjadi segi empat dan dilemparkan ke barat. Sang Syeh bersayembara bahwa barang siapa yang bisa menancapkan batu tersebut akan menjadi lurah. Woro-woro tersebut diminati banyak pendekar-pendekar sakti salah satunya adalah Wiro Djombo, pendatang dari pesisir Kidul yang berani mengikuti sayembara. Namun banyak rintangan bila ingin mendekat ke sebuah batu tersebut karena terdapat rerumputan yang dinamakan rumput Jombok yang beracun. Jika rumput tersebut disentuh maka akan terasa gatal. Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang baginya untuk menjadi seorang lurah.

            Waktu berlalu satu per satu pengikut sayembara gagal mengangkat batu tersebut karena selain berat, tenaga mereka semakin terkuras. Tinggallah seorang bernama Wiro Djombo yang tenaganya sudah mulai mengendor karena lapar dan dahaga. Saking laparnya Wiro Djombo mengunyah rumput Jombok. Ia sangat kaget, ternyata rumput Jombok mempunyai kekuatan magis yang dahsyat. Maka diangkatlah batu tersebut dan ia tancapkan dalam posisi miring ke barat dengan mudah. Oleh karena itu, Wiro Jombo menamakan desa dengan sebutan dalam bahasa Jawa berkata, “Mbesuk yen ono rejane jaman deso iki tak arani desa Jombok (Desa Jombok). Karena kekuatan meraih sayembara hanya dengan mengunyah Rumput Jombok. Selain itu, ia juga menamakan batu yang ditancapkan dengan sebutan Watu Gurit karena batu tersebut oleh Syeh dengan cukup digarit dengan ranting bambu, dan sampai sekarang batu tersebut masih ada di jaman dulu. Apabila mendekat terasa gatal, mungkin hal tersebut dikarenakan adanya daya dari rumput jombok.

 

Sebuah prasasti Watu Gurit orang menyebutnya, berdekatan dengan makam yang terletak di dusun Krajan (Dusun Jombok) Desa Jombok

Mengingat adanya hal tersebut sudah dinanti-nanti oleh masyarakat, maka orang berbondong-bondong mendatangi tempat Wiro Jombo berada dan sambil mengelu-elukan nama Wiro Djombo dan desa Jombok. Mengingat setiap nama wilayah pasti ada riwayat seperti itu, kemungkinan tercapainya Wiro Djombo memegang kekuasaan desa maka kabar tersebut terdengar sampai ke pelosok desa dan didengar oleh teman seperguruannya yang ingin menggantikan kekuasaannya. Pikiran Wiro Djombo menjadi was-was. Ia lalu meminta bantuan kepada Ki Wono Salam karena ilmunya yang lebih tinggi. Akhirnya Ki Wono Salam memberi saran agar hendaknya Wiro Djombo pergi sementara waktu untuk berlindung. Maka Wiro Djombo pergi ke lereng bukit bersama burung kesayangannya bernama burung Sri Bombok. Sesampainya di bawah lereng, ia meletakkan burung kesayangannya dan dikurung di atas batu. Lalu Wiro Djombo bertapa dalam keadaan tidur berbantalkan sebongkah batu. Setelah selesai bertapa betapa terkejutnya ia melihat burung kesayangannya berubah menjadi batu. Akhirnya batu tersebut dinamakan Batu Kurung. Dan konon kabarnya tempat tersebut ditempati Pulung Lurah, yang kelihatan pada waktu 40 hari sebelum kepala desa akan didatangi burung yang aneh. Jika malam hari pemilihan kepala desa ada sinar memancar berjalan menuju calon yang akan terpilih.

Lain halnya dengan Ki Wono Salam yang menghadang di bantaran bukit. Mengingat lawan lebih banyak maka Ki Wono Salam mengeluarkan ajian Payung Bawat yang bisa mengeluarkan mendung. Hal tersebut membuat orang yang datang dari arah timur tidak berani mendekat karena merasa Mak Ces, maka daerah tersebut dinamakan Pakces. Sedangkan yang dari arah barat akan terasa Asrep (dingin) dan akhirnya dinamakan Kasrepan. Kemudian dari arah selatan sangat ketakutan sehingga diam di rumah (sidem), maka daerahnya bernama Sidem. Di situlah sampai sekarang daerah tersebut dinamakan Salam Mendung. Karena berkat ajian Payung Bawat, Ki Wono Salam mengeluarkan kabut hitam, maka musuh Wiro Djombo tidak berani mendekat dan melarikan diri. Dan Ki Wono Salam menyabdo barang siapa orang sebelah selatan bukit yang ingin menjadi penguasa desa Jombok biarpun bisa tidak akan seumur jagung dan mitos ini masih ada sebagian orang yang mempercayainya.

Setelah keadaan sudah aman makan Ki Wono Salam memanggil Wiro Djombok untuk kembali berkuasa. Setelah beberapa windu kemudian Wiro Djombok berkuasa dari jaman ke jaman, Jombok mulai terkikis dengan adanya penjajah yang masuk, maka terdesaklah kekuasaan Wiro Djombo dan menghilang.

SEJARAH PEMERINTAAN DESA JOMBOK

            Pada zaman penjajah Belanda, desa Jombok didatangi oleh tentara-tentara Belanda yang bertempat tinggal di Pesanggrahan yang sekarang masih ada adalah berupa kamar mandi kuno.

 

Kamar mandi zaman Belanda yang sekarang masih ada

           

            Karena kedatangan Belanda sangat mengganggu ketenangan warga, maka terdengar berbagai pelosok desa, akhirnya terdengar oleh seorang bernama Mbah Popog yang baru bertempur dari daerah Panggul. Mengapa disebut Mbah Popog karena peperangannya melawan Belanda di Panggul tidak menang da tidak kalah. Namun ingin menyusun kekuatan mencari teman untuk melawan penjajajah. Dalma perjalanan, Mbah Popog menemukan gading gajah yang dapat digunakan untuk senjata namun dalam perjalanannya malah bertemu tentara Belanda yang berada di Pesanggrahan.

 

Batu bersejarah yang masih keramat

            Mengingat dalam keadaan terdesak, maka Mbah Popog menggunakan senjata sebilah keris dan gading gajah. Tidak disangka apabila senjata tersebut badannya ringan seperti burung sikatan yang menyambar sangat cepat dan tepat. Maka keris tersebut dinamakan Keris Joko Pikatan.

            Dan apabila menggunakan senjata gajah, maka kekuatannya seperti gajah. Akhirnya para Belanda meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena perginya dengan menggunakan gading gajah, maka daerah tersebut dinamakan dusun Gading. Setelah Belanda pergi, tempat Pesanggrahan tersebut ditempati oleh Mbah Popog namun hanya menempati sebelah timur Pesanggrahan saja. Beberapa lama kemudian, Mbah Popog lengser dari daerah dusun Gading dan meninggalkan sebilah keris Jaman menjadi semakin berubah karena kekosongan tempat tersebut, maka tempat itu ditempati oleh sorang sinder (camat) dan dinamakan Kantor Onderan. Namun beberapa tahun kemudian, kantor pindah karena untuk memperluas wilayah dan Kantor Onderan dipindahkan ke desa Pule. Maka seorang sinder memerintahkan seseorang untuk menjadi demang yang memimpin beberapa wilayah bernama Demang Djojo Karso. Setelah Demang Djojo Karso lengser, peraturan pun berganti menjadi bukan kademangan, melainkan kelurahan. Dan yang dijadikan lurah anaknya yang pertama dan anak kedua menjadi carik. Namun anak pertamanya kurang bisa memegang kekuasaan, maka kekuasaan digantikan oleh anak kedua bernama Djojo Martopo.

Lurah pertama Djojo Martopo yang berkuasa sejak tahun 1923 s/d 1955

        

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

video

Lokasi Jombok

tampilkan dalam peta lebih besar